Shalat Jumat di Masjid Huxie Shanghai

Umat Islam Cina dapat dikenali dari kopiah putih dan jilbab berwarna hitam.Pada Kamis, 11 Maret 2010, sekitar pukul 05.00 entah di mana dan menghadap ke mana, sambil duduk di pesawat, saya memenuhi keperluan lahir batin saya: shalat subuh. Pukul 07.10 pagi waktu Shanghai (06.10 WIB), pesawat mendarat di Bandara Pudong Shanghai. Itulah untuk pertama kali saya menginjakkan kaki di negeri Tiongkok.

Tujuan saya adalah Shang Hai Waì Guo Yu Da Xué (Shanghai International Studies University), tempat saya akan menjadi guru tamu. Saya akan mengajarkan bahasa Indonesia. Mahasiswa yang sudah agak lancar berbahasa Indonesia menjemput saya.Sebagai seorang Muslim tentu yang dicari pertama kali ketika menginjakkan kaki di negeri non-Muslim adalah makanan halal dan arah kiblat untuk shalat.

Saya tanyakan hal itu kepada Maman (nama asli Xing Dong) yang menjemput.Mahasiswa penjemput membelikan nasi dan daging sapi untuk sarapan pagi. Dalam benak saya hanya tertanam daging babi dan apa pun yang berasal dari babi haram. Dia mengatakan bahwa yang dibelinya adalah daging sapi. Halal. Untuk pertama kalinya juga, saya makan masakan Tiongkok. Subhanallah, saya tidak hati-hati, lupa bahwa yang menyembelih sapi dapat dipastikan bukan orang Muslim, bahkan mungkin tidak beragama. Baru ingat setelah sarapan selesai. Berarti daging sapi yang saya makan termasuk makanan haram. Astaghfirullahal'azhim.

Pukul 13.00 waktu makan siang pun tiba. Badan sudah ada di Shanghai, tetapi pikiran masih ada di Bandung. Karena itu, sebelum mencari kantin Muslim, di wisma milik universitas yang akan saya tempati, saya shalat zuhur. Beberapa hari kemudian, baru saya tahu bahwa jadwal shalat zuhur di Shanghai adalah pukul 13.30. Setelah shalat, barulah mencari kantin Muslim. Mencari kantin Muslim sangat mudah karena tersebar di banyak tempat. Bahkan, di setiap stasiun pasti ada kantin Muslim. Tidak sulit mencari karena mereka selalu memakai pakaian khas: laki-laki berkopiah putih dan wanita berkerudung hitam. Di pintu kantin selalu ada tulisan “halal” dalam huruf Arab dan gambar kubah masjid. Di dalam kantin pun selalu ada poster bergambar menu bertulisan bahasa Tionghoa dan bahasa Arab. Semuanya seragam seperti itu.

Sayangnya, semua menu yang ada dari daging domba. Hanya ada satu menu daging ayam. Setiap porsi per menu harganya sekitar 8-12 RMB (Rp 10.760-Rp16.140). Satu RMB sama dengan Rp 1.345.Kaget juga melihat porsi makan berukuran jumbo. Sampai terengah-engah saya mencoba menghabiskan makanan yang nasinya boleh dikatakan tiga perempat matang. Saya hanya bisa menyantap setengahnya. Untuk menghindari pemborosan, saya tidak lagi makan di warung. Saya bungkus nasi berdaging domba, untuk kemudian saya makan di wisma. Satu bungkus bisa untuk dua kali makan.Kantin Muslim ternyata ada juga di kampus Shanghai International Studies University. Kantin Muslim dan kantin non-Muslim berada dalam satu ruang besar. Dengan disekat setinggi sekitar satu meter, sepertiga kantin dikhususkan untuk Muslim. Non-Muslim dilarang masuk ke kantin Muslim. Sayangnya, kantin kampus hanya dibuka 1,5 jam pada jam sarapan, jam makan siang, dan jam makan sore.

** Abdul Hamid, dosen Prodi Sastra Indonesia Unpad


Sumber: Republika, Minggu, 15 Agustus 2010